Rakit Bambu Di Sungai Bogowonto

Muhammad Khoirudin 22 Mei 2012 2
Rakit Bambu Di Sungai Bogowonto

Getek merupakan sarana transportasi air di Purworejo yang digunakan untuk menyebrangi sungai, lebih tepatnya lagi warga tetangga desaku Boro Wetan yang sering menggunakan alat transportasi ini untuk menyebrangi sungai Bogowonto, khususnya saat musim penghujan. Getek ini terbuat dari bambu yang ditata rapi kemudian diikat sedemikian rupa dan sekuat  mungkin hingga mampu menahan tekanan air.

Warga Boro Wetan biasanya membuat getek secara gotong royong. Pengoprasian getek juga dilakukan warga secara bergantian, biasanya terdiri dari dua nahkoda jika kondisi air cukup deras. Mengingat getek ini menggunakan tenaga manual bukan tenaga mesin, maka butuh tenaga yang ekstra untuk menjalankannya.
Jika anda ingin menggunakan jasa getek ini untuk menyebrangi sungai, tidak ditentukan tarifnya, cukup memberi seikhlasnya saja. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan alat transportasi pada umumnya. Selain itu ada keistimewaan tersendiri bagi para pelajar yang hendak menyebrang ketika akan pergi ke  sekolah, yaitu tidak dikenakan tarif sedikitpun alias gratis.

Gethek sedang mengangkut penumpang yang ingin menyeberang

Zaman krisis seperti ini jarang ada gratisan lo ! !.
Tidak sedikit warga yang mengunakan jasa getek ini, karena posisi desa yang dilewati sungai yang cukup panjang dan di tempat itu tidak ada jembatan, sehingga warga memang harus menyebrang jika ingin bepergian. Contohnya aku, jika ingin pergi kerumah teman di desa sebelah juga menggunakan getek ini untuk menyebrangi Sungai Bogowonto. Cukup menegangkan rasanya ketika kondisi sungai sedang banjir, terlihat jelas betapa buasnya sungai yang bermuara di pantai Congot ini. Dengan demikian tidak cukup hanya satu nahkoda untuk menjalankan rakit bambu ini, namun bisa empat sampai lima orang.

Zaman dahulu warga sering mengunakan bambu kecil atau biasa disebut genter (galah) untuk menggerakan getek, namun kini sudah diganti dengan cara lain yaitu dengan membentangkan tali selebar sungai yang biasanya diikat pada pohon dan nahkoda cukup berpegangan pada tali tersebut untuk menggerakan getek. Karena cara ini dianggap cukup efektif apalagi ketika aliran sungai cukup deras maka warga lebih memilih cara ini untuk mengoperasikan getek. 
Naik getek rasanya tidak kalah dengan naik perahu ataupun kapal-kapal besar, bahkan aku sering mendapatkan inspirasi ketika naik getek. Ketika kita mencermati lagi susunan rakit bambu inipun terkandung nilai estetik yang tinggi. Nah jika anda orang Purworejo dan belum pernah merasakan naik getek buruan mencoba deh.

 Oleh: Muh Khoirudin




Comments

comments

2 Komentar

  1. fw pribadi 26 Juni 2012 pukul 17.54 - Balas

    di sungai bogowonto yg menjadi perbatasan antara Plaosan Baledono (tempat tinggalku) dan desa dung sari juga masih menggunakan getek untuk menyeberang…..

  2. slametku 3 November 2012 pukul 15.03 - Balas

    wah asyik

Beri Komentar