Ungkap Syukur Dukuh Ngawang – Awang -Brenggong, Gelar Sedekah Bumi

0
47
Berbagai Grup Kesenian seperti Jaran Kepang, Ndolalak, Marching band memeriahkan arak-arakan ini sepanjang jalan desa.

Reviens Purworejo – Warga Dukuh Ngawang – Awang RT 02 /02 Desa Brenggong Purworejo, gelar sedekah bumi dengan mengarak Pulu Wetu Bumi yang dihias dalam berbagai bentuk gunungan nan artsitik, Sabtu 27/10.  Pulu Watu Bumi yakni  hasil bumi warga desa yang diarak itu merupakan simbol rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai Grup Kesenian seperti Jaran Kepang, Ndolalak, Marching band memeriahkan arak-arakan ini sepanjang jalan desa.

Menurut sejarah yang ada dalam Sedekah Bumi di Dukuh Ngawang-Awang ini Kepala Desa diikut diarak dengan naik  kuda bersama rombongan lain. Ada  4 Pulu Wetu Bumi yang dihias dan dibentuk  seperti gunungan yang nantinya akan di perebutkan oleh masyarakat secara bersama-sama.

Acara budaya yang  digelar berpusat di Petilasan Nyai Rantamsari memiliki sejarahnya sendiri. Seperti yang diceritakan Pramono (63) Juru Kunci Padukuhan Ngawang-awang.

Sedekah Bumi atau yang ditempat lain disebut dengan Merti Desa ini syarat dengan  makna ucapan syukur masyarakat Dukuh Ngawang – awang dan sekitarnya, atas panen dan hasil bumi yang melimpah sekaligus sebagai doa memohon berkah agar segala cita-cita masyarakat tercapai, kesehatan, rejeki, kesejahteraan dan kebaikan lainnya.

“Nyai Rantamsari dipercaya seagai   sosok Petapa Pejalan, pengayom ayom Pulau Jawa. Beliau pernah singgah di Desa Ngawang – awang.  Sedekah bumi sebelumnya berpusat di kediaman Kepala Desa yang menjabat, namun karna adanya petilasan dan ruang yang mampu menampung kegiatan sejak 2 tahun ini dipusatkan di Petilasan Nyai Rantamsari,” kata Pramono.

Menurut Pramono  dulu yang babat alas Dukuh Ngawang – awang adalah Eyang Tanudjoyo dari Kraton Jogjakarta. Cerita ini berkembang sebelum berakhir Perang Diponegoro 1825-1830, saat Kaum Kolonialis bercokol di Indonesia.  Makam Eyang Tanudjoyo  terletak di bumi Ngawang – Awang namanya Makam Sedepok.

Arak-arakan mengambil rute dari Padukuhan Ngawang awang ke RW 5 keliling sampai jalan besar, memutari RW 2 dan berakhir di  Petilasan. Di sini semua berkumpul dan didoakan oleh seorang agamawan, baru setelah itu hasil bumi diperebutkan oleh warga dan diakhiri makan bersama. Tontonan budaya dugelar juga setelah makan bersama, yaitu Jaran Kepang dan Wayang Kulit. ” tambah  Pramono.

Acara Budaya ini semua dibiayai dari dana swadaya warga. “Harapan saya mbok ada perhatian dari pemerintahan setempat agar gelaran budaya macam ini yang lekat dengan edukasi dan keramahan lokal jangan sampai luntur ditelan jaman. “

Babang Febru Harjadi S. Sos, sebagai Pj. Kepala Desa Brenggong menyatakan  rasa syukur atas terselenggaranya sedekah bumi di Padukuhan Ngawang – awan. “Ini adalah salah satu cara alternatif untuk saling mempererat silaturahmi antar warga desa, bertemu langsung, berbagi dalam ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Sedang menurut Andi Nurvita (39th) yang berprofesi sebagai sorang Hakim di Pengadilan Tinggi Yogyakarta, bahwa budaya yang lekat dengan local wisdom seperti ini jangan sampai hilang digerus kemajuan zaman, “Inilah identitas dan akar dari leluhur kita dari zaman dahulu yang syarat dengan kebaikan!”

Vita yang rela berdandan sejak pagi menjadi sosok kesatria dalam tokoh pewayangan yakni Srikandhi terlihat gagah dan anggun mengenakan kostum warna merah lengkap dengan busur dan anak panah. Hidup di era modern penuh dengan loncatan teknologi dan budaya serta gaya hidup yang hingar bingar, tak lantas menjadukan dirinya mengalami Gegar Budaya (Shock Culture), justru dirinya selalu aktif dalam kegiatan budaya di desanya. “Saya rela pulang seminggu sekali, menikmati udara desa dan pegunungan, berkumpul dengan kerabat dan warga yang telah mengawal perjalanan leluhur kami di desa ini!” Vita yang eyang dan kerabatnya menjabat petinggi desa tak pernah akan lupa dengan keramahan desa dan budaya lokalnya. Buatnya kemajuan zaman tak boleh menjadikan warga desa sebagai penonton saja tapi juga tak boleh mengubah warga desa mengalami Gegar Budaya hingga melupakan identitas dan akar budaya mereka. (agam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here