Workshop Inklusi Disabilitas Berdayakan Kaum Difabel dan Launching Outlet Makmur Bakery Bagelen

0
123
Workshop Inklusi Disabilitas

Reviens Purworejo, Bagelen – Dunia kerja yang memaksa semuanya dalam akselerasi produksi, serba cepat, instan dan massal. Dan ini dibutuhkan para pekerja muda, cekatan dan siap hidup dalam tekanan. Bagaimana dengan para kaum difabel. Padahal definisi difabel adalah orang yang mempunyai kemampuan beda dengan rang kebanyakan, bukan orang yang memiliki kekurangan karena bagian tubuhnya tak lengkap atau tak sama dengan orang kebanyakan. Justru mereka ini sesuai dengan definisi di atas adalah orang yang memiliki kemampuan.

Namun dunia kerja sangat tak ramah dan underestimate terhadap mereka. “Lihat tampilan fisik saja kami seolah terintimidasi saat mau daftar kerja mas!” keluh Rus (50th). Menjawab problema ini Persaudaraan Warga Bagelen (PWB) bekerja sama dengan Pusat Rehabilitasi Yakkum (Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum) menggelar Workshop Inklusi Disabilitas di Rumah Produksi PWB, Dusun Tambahrejo, Desa Krendetan, Kecamatan Bagelen – Purworejo, Senin (8 Oktober).

Dalam gelaran ini, Pusat Rehabilitasi YAKKUM bekerjasama dengan LFTW (Light For The World) dalam program Livelihood untuk penyandang disabilitas di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Diterjemahkan dari buku “Towards Inclusion” karya Vera Van Ek Sander Schot berfungsi sebagai panduan bagi masyarakat untuk mewujudkan inklusi disabilitas.

“Pada dasarnya penyandang disabilitas mencapai kemandirian yang maksimal dan mampu mengintegrasikan dalam masyarakat.” Kata Khusnul Sukarno Putra (41th), Project Manager Yakkum di Purworejo. Yakkum selalu siap bersinergi dengan lembaga lain untuk memberdayakan para penyandang disabilitas untuk mencapai kemandirian yang maksimal secara fisik,sosial dan finansial. “Mereka sangat punya potensi untuk ikut memberi kontribusi dalam proses pembangunan!” tambah Khusnul.

Dalam gelaran ini, terbukti mereka mampu melakukan usaha produksi dengan melaunching Outlet Makmur Bakery Bagelen, yang mndapat dukungan besar dari PWB. Produksi seperti Roti Brownis, Banana Cake dan Eggroll sudah mendaapat tempat di masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan ini hadir sebagai pembicara dari dinas terkait, seperti Bappeda, Disperindagkop, Dinas Sosial dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purworejo. . “Kami juga mendorong mereka untuk terus berkarya dan melakukan usaha produksi, kami bekali dengan infrmasi soal legalitas usaha, bagaimana membuat packaging yang baik, marketing, juga konsultasi bisnis untuk mengembangkan usaha.” kata Dra. Titik Mintarsih, narasumber dari Diperindagkop Purworejo.

Dalam kesempatan ini hadir pula fotografer dari Belanda, Benno Neeleman dan istrinya Marij Humblet yang mendokumentasikan para difabel yangterus berjuang untuk tetap survive hidup meski percepatan zaman yang makin kompetitif. “banyak kisah inspiratif dari sini Purworejo yang mungkin dunia perlu tahu lewat foto dan tulisan.” Kata Benno.

Saat disodorkan foto seorang fotografer jalanan tanpa kedua tangan, “Waoow…it s so amazing..someday u ve to brong me to her home!” katanya. Puluhan kaum difabel hari itu dipantik semangat dan kreasinya untuk tetap punya spirit menghadapi tantangan hidup. (agam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here