Pernikahan Nadia – Justus, Ketika Barat Bertemu Timur di Purworejo

0
568
Pernikahan bule Jerman dengan gadis Purworejo (rp/agam)

Reviens Purworejo – Tuhan telah menciptakan perbedaan di dunia ini bukan untuk dibandingkan siapa yang superior dan siapa yang inferior, bukan pula untuk ditubrukkan dalam sebuah pertentangan. Justru dari perbedaan tersebut, satu sama lainnya bisa saling melengkapi melahirkan paduan yang variatif dan berwarna warni indah untuk dilihat dan dinikmati. Setidaknya itulah pesan positif yang terekam dalam pernikahan Nadia Hapsari Setiabudi dan Justus Thomas Obiajulu Sievers dua anak manusia berbeda bangsa dan budaya, Indonesia – Jerman. Nadia putri dari pasangan Gunawan Setiadi – Budi Kadaryati akhirnya melangsungkan pernkahan agung dengan Justus putra pasangan Axel Harneit Sievers – Barbara Sievers warga negara Jerman.

“Putri saya, Nadia sejak lulus SD sudah menempuh pendidikan di luar negeri, mengikuti ayahnya yang bekerja di WHO (World Health Organization), salah satu badan United Nation, jadi kami berpindah-pindah mulai dari, Jakarta, India, Nepal!” kata Budi Kadaryati membuka obrolan saat ditemui di rumahnya di Madyokusuman, 3/9 lalu.

Yang menarik dari pernikahan ini, semua rangkaian upacara adat Jawa masih kental digelar meski terlihat jelas dua etnik anak manusia ini berbeda. Justus yang kulitnya putih terlihat gagah mengenakan pakaian pengantin berwarna hitam berasesoris motif emas dan berkalung  untaian bunga Melati. Sementara Nadia tampak terlihat anggun wanita Jawa yang khas mengenakan Sanggul bertahtahkan sunduk penthul dan Bunga Melati di sekitar sanggulnya.

Ruth, mahasiswi asal Inggris  salah satu salah satu sahabat Nadia, terlihat girang bisa menyaksikan pernikahan yang baru dia saksikan di Purworejo. “Yeah this is the first time for me here, I m glad to see all about Purworejo, especially this wedding party, great culture..n so amazing…nice people, unique cullinary etc!” kata Ruth kegirangan.

Rangkaian Adat Jawa ini jelas menjadi hiburan tersendiri buat Ruth dan teman-temannya yang  datang sebagai tamu undangan sahabatnya dalam pesta pernikahan yang istimewa. Akad Nikah memang dilangsungkan di rumah Nadia di Madyokusuman – Purworejo dengan menggunakan dua bahasa yakni Indonesia dan Inggris. Namun selebihnya kental dengan adat Jawa, mulai dari Pondongan, Tanem Rikmo, Dodol Dawet, Potong Tumpeng Robyong, Midodareni, penyerahan kancing gelung, angsung-angsul, balangan suruh, sungkeman. Belum lagi hiburan tari Gambyong, Siteran,  Tari Ndolalak, dan Gamelan. Semua menjadi daya tarik yang memikat sahabat-sahabat Nadia yang memang bar pertama bisa datang ke Purworejo dengan segala keunikan budaya yang disuguhkan.

Pernikahan mereka digelar di Gedung Artha Kencana KPPN Purworejo pada tanggal yang menurut para tamu undangan merupakan angka yang baik, yakni 18 8 18. “Angka 8 merupakan angka yang tak pernah putus, maksudnya nyambung terus, harapannya rejeki, barokah dan kebahagiaan senantiasa selalu berlimpah tak pernah putus!” kata seorang bapak penarik becak yang hari itu mendapat rezeki dari pernikahan Nadia – Justus.

Mempelai bersama orang tua juga saudara mempelai diarak menggunakan becak yang kap nya terbuka. Iring-iringan ini menjadi pemandangan tersendiri buat para pengguna lalu lintas di Purworejo. “Eh itu mantennya bule ya..ganteng ya pakai baju Jawa…wah ayu-ayu juga itu para pengiringnya..India..dan londo kayaknya!” celoteh para pejalan kaki yang melihatnya.

“I am from Hanover Germany, waoww..diffrenece culture ..waow..i like this..so amazing ..clorot, bakso..sate n unique dancing!” kata salah seorang lelaki tamu undangan asal Jerman di sela menikmati hiburan dan kuliner yang disajikan.

“Nadia dan Justus kenal dari sejak menempuh pendidikan di British School di New Delhi – India!” tambah Budi Kadaryati. Ayah Nadia yang seorang dokter memang sempat menggarisbawahi, Nadia boleh nikah dengan lelaki manapun asal memeluk agama Islam. Dan tantangan itu dijawab oleh Justus, dengan segera memenuhi janji dalam hatinya, mengucap kalimah syahadat di Masdjid Agung Purworejo. “Tiap lebaran Nadia kan pulang ke sini, Justus juga ikut, baru tahun ke dua kedatangannya ke Purworejo, Justus langsung bersedia mengucap kalimah syahadat dan menjadi Mualaf yang rajin mengkaji nilai nilai Islam.

Menurut Budi Kadaryati, Justus sering mengingakan saat Adzhan berkumandang, tak banyak bicara dirinya segera bangkit mengambil air wudhu dan mengajak sholat. Soal kulinerpun keluarga besan dari Jerman dan teman-teman Justus terlihat menikmati masakan Indonesia, Purworejo khususnya, Clorot, Dawet, Sate, Soto, dan Bakso sudah mulai akrab dengan lidah mereka.

Para Wisman saat menghadiri pernikahan (rp/agam)

Pesta pernikahan ini juga menjadi ajang silaturahmi alumni SMA N 1 Purworejo yang tergabung dalam Muda Ganesha lintas angkatan. Tercatat tamu undangan VIP yang hadir Prof. Dr. Dr.  Fahmi Idris, SKM Dirut BPJS Kesehatan, yang sekaligus menjadi saksi pernikahan, Drs. Dwi Atmaji, MPA, Sekretaris Utama Kementrian PAN-RB, Mayjend. Imam Edy Mulyono, Koordinator Staf Ahli Panglima TNI, Prof. Dr. Leksono Trisnantoro, dr. Widiarti, MPH Direktur RSAB harapan Kita.

Mempelai wanita sendiri lulusan S2 Oxford University – Inggris dan bekerja di J-PAL SEA (Jameel Poverty Action Lab. Southeast Asia). Selamat buat mempelai Nadia – Justus semoga menjadi keluarga Sakinah Mawahdah wa rohmah dan bahagia menjalin perbedaan kultur menjadi jalinan cinta kasih yang bahagia dan bisa menginspirasi perbedaan-perbedaan yang lain untuk bisa berpadu dengan baik. (agam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here