Spirit Kemerdekaan NKRI Ke- 73 Di Desa Kedungpoh Warga Beri Reward Pahlawan Desa

0
390
Pak Subejo mendapat piagam penghargaan

Reviens Purworejo, Loano – Desa Kedungpoh merupakan desa yang berada di Kecamatan Loano terletak tak jauh dari aliran Sungai Bogowonto. Sebuah sungai yang dikenang memiliki histori panjang menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan menantang kaum kolonialis. Salah satunya Pangeran Diponegoro yang berjuang tak jah dari awasan pesisir Selatan Jawa Tengah dan sepanjang Sungai Bogowonto.

Banyak pahlawan yang lahir dari Purworejo tercatat dalam sejarah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bogowonto seperti sumber kehidupan dan inspirasi bagi lahirnya para pejuang. Tak dipungkiri peradaban manusia memang tak bisa jauh dari aliran sungai, karena air memang menjadi unsur kehidupan peradaban. Dalam setiap era dengan tantangan dan alam yang berbeda, konon selalu lahir generasi yang memiliki jiwa patriotik dan selalu siap memberikan kontribusi nyata  buat kepentingan orang banyak.

“Semangat inilah yang coba selalu kami update, kami hembuskan di acara karnaval ini, meski di desa, kami tak mau kalah dengan para pejuang pendahulu, semua siap menjaga persatuan da kesatuan antar warga 4 dusun dalam wilayah Desa Kedungpoh!” kata Adi Sucipto (32th), Sekretaris Desa Kedungpoh.

Aarak-arakan karnaval menyusuri aliran sungai irigasi desa yang asri hari itu (Minggu 19 Agustus) digelar dalam rangka memperingati Kemerdekaan NKRI ke- 73 diikuti 1.200 peserta yang terdiri dari 4 dusun yakni, Bandingan, Kedungpoh, Wonolalis, dan Kedungrejo. Lintasan yang cukup panjang dalam rute yang dipilih oleh panitia tak menyurutkan para peserta yang terlihat antusias.

“Sebenarnya kita sudah menentukan rute yang sudah kami sepakati dengan para peserta, namun karena salah seorang warga ada yang meninggal rumahnya dalam lintasan rute tersebut, kami ubah dadakan, memang lebih panjang mas, tapi semua tetap semangat!” tambah Sekdes menanggapi perubahan rute.

Berbagai tampilan diperankan oleh peserta, sosok pahlawan dan pejuang terlihat mendominasi, meski sesekali di sela-sela mereka dimunculkan tokoh unik, seperti boneka sapi, badut, Buto (raksasa) dan sosok Ladyboy yang mengundang tawa. Acara dimulai sekitar pukul 08.00 dilepas oleh Kepala Desa Kedungpoh, Lagiyono dengan urutan paling depan adalah Pasukan Pengibar Bendera (Karang Taruna) disusul Drumband (MTS N Loano) yang begerak menyusuri jalanan desa. Diantara para peserta yang mengular itu, anak-anak TK Karya Luhur dengan mengenakan baju daerah terlihat antusias. “Coba lihat yang itu, itu nenek berusia 60 tahunan, dari tahun lalu selalu ikut acara ini lo, padahal lintasannya naik turun dan agak jauh, tapi itu dia semangat warga di sini seperti membuat energi yang lebih!” kata Dwi Romadhon, warga Kedungpoh menjelaskan. Sebuah mobil ambulan memang sudah dipersiapkan untuk meolong para peserta yang kelelahan.

Setiba di garus finish yakni di balai desa, aneka makanan dan hadiah doorprize sudah dipersiapkan oleh panitia. “Tahun ini kami sangat bergembira atas peran dan kontribusi yang besar dari 2 orang warga kami, mereka kami berikan gelar Pahlawan Desa, kebesaran jiwa yang nyata dari mereka patut diacungi jempol dan diapresiasi oleh warga!” tambah Adi Sucipto. Dua orang tersebut adalah Supardi, S.Pd yang memberikan kontribusi di bidang pendidikan membuka PAUD Berlian. Pahlawan Desa yang kedua adalah Subejo, yang jiwa besar dengan penih kerelaan dan tulus ikhlas mewakafkan tanah nya seluas kira-kira 50 x 15 m untuk kepentingan warga desa.

“Kami respect dan beri penghargaan setinggi-tingginya buat 2 pahlawan desa ini, semoga warga yang lain selalu terinspirasi oleh kisah-kisah orang yang berjiawa besar untuk kemajuan Desa Kedungpoh khususnya!” kata Adi Sucipto mengakhiri obrolan. (agam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here