Bangkitnya Spirit Cinta Alam, Reresik Sumur 7 Kembali Digelar

0
124
Reresik Sumur 7, upaya membangkitkan cinta terhadap alam (rp/agam)

Reviens Purworejo, Cangkrep – Setelah nyaris terlupakan dan tenggelam dalam hiruk pikuk perjalanan Sang Waktu, Budaya Reresik Sumur 7 kembali dibangkitkan lagi, Sabtu (4 Agustus 2018). Adat ini tidak berangkat dari sebuah kisah rekaan legenda belaka atau kisah yang dibuat-buat, namun tercipta sejak dahulu untuk menjaga kelestarian alam. Keprihatinan melihat keberadaan sumur yang harus dijaga untuk kehidupan warga sekitar, Reresik Sumur 7 kini bisa kembali mengigatkan pentingnya air sebagai sumber kehidupan.

Maka Reresik atau bebersih menjadi pesan moral dan semangat mengajak siapa saja untuk bersama menjaga kelestarian alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Jelas semangat Go Green telah diimplementasikan para leluhur bukan hanya slogan belaka. Desa Cangkrep Kidul – Kab. Purworejo telah dikaruniai mata air yang tak pernah surut dan kering di musim kemarau sekalipun, patut bersyukur dan menjaga karunia tersebut.

“Dengan bersatu padunya masyarakat melakukan Reresik di ketujuh mata air (Sumur 7) semoga bersatu pula 7 pedukuhan yang berada di wilayah Cangkrep Kidul, sehingga aman, damai dan sentosa!” kata Teguh Suyono, Pimpinan produksi Kirab Budaya yang di gelar di Kelurahan Cangkrep kidul, Purworejo.

Advertisment

Sumur-sumur yang tak lain merupakan mata air di Desa Cangkrep Kidul ini sangatlah unik dan punya nilai mistis. Ada 7 sumur diantaranya, Sumur Kemloko, Sumur Pancur, Sumur Buthek, Sumur Planangan, Sumur Tengah, Sumur Pandan sari, Sumur Lanang dan Sumur Wedok.

“Air dari Sumur Kemloko konon di percaya untuk obat dan di Sumur Pandansari punya khasiat sebagai pembasuh wajah penuh sugesti untuk tampil awet muda. Banyak wisatawan luar daerah yang datang di area sumur itu, seperti Jogja, Jakarta, Surabaya dll, datang untuk mengambil manfaat sumur itu”, tambah Teguh.

Bersamaan dengan Kirab Budaya Reresik Sumur 7 ialah kemah budaya yang juga di gelar oleh Komunitas Teater Purworejo, Karang taruna Patria Gama Cangkrep Kidul yang bersinergi bersama dengan masyarakat lokal.

Para peserta kirab budaya tercatat, Karang taruna “Patria Gama” Cangkrep Kidul, Komunitas Teater Purworejo (KTP), Sanggar Tari Prigel, Siswa MTs Ma’arif Purworejo, SD Negeri Cangkrep Kidul, MI Imam Puro dan PS. Tri Susila Cangkrep Kidul. Gelaran ini melibatkan penulis naskah (Harjito), Sutradara (Agus Pramono), Penata Gerak Melania.

Prosesi Reresik Sumur 7 yang kembali digelar pertama kali oleh masyarakat Kelurahan Cangkrep Kidul, Kabupaten Purworejo, sangat lekat dan penuh semangat cinta alam dan isinya. Diawali dengan Lagu Gundul-Gundul Pacul, sejumlah anak mengenakan Mahkota Daun Nangka menari dan bermain di halaman Balai Desa. Proresi digelar mulai dari Balai Kelurahan dengan urutan kirab di barisan depan adalah Prajurit, dilanjat Sanggar Kidung Rinonce, Hasara Habsari, tokoh masyarakat dan gunungan buah. Kirab dimeriahkan juga dengan barisan bermusik yakni drumband MTS Maarif Cangkrep Kidul, rombongan Padepokan Pencak Silat Tri Susila dan Grup Kuda Kepang Pandan Sari dan Gunungan Hasil Bumi.

Begitu tiba di area Sumur Kemloko yang terdapat 7 sumber mata air, tokoh-tokoh masyarakat melakukan Jamasan Kuda Kepang dan pengambilan air dari 7 sumber sumur tersebut. Setelah prosesi dan ritual selesai dengan ditutup doa, dilakukan kirab balik dan rebutan Gunungan Hasil Bumi oleh masyarakat. Air yang diambil dengan Siwur (Gayung yang terbuat dari Batok Kelapa) dimasukkan dalam Kendi keramik, setelah itu di bawa ke laboratorium Komunitas Teater Purworejo (KTP). Di sini para perangkat desa melakukan cuci diri dengan air 7 sumur tersebut dengan membasuh muka, diikuti pula oleh anggota masyarakat.

Seperti yang disampaikan Uci dari Sanggar Kidung Rinonce, prosesi seperti ini adalah sesuatu yang harus di lestarikan sebagai wujud menjaga keseimbangan kehidupan antara alam dan manusia. Jauh sebelum slogan Go Green diteriakkan, ternyata para leluhur sudah mengimplementasikan dan menjaga semangat Go Green.

“Para leluhur kita ternyata lebih peka pada alam dan kekuatan yang ada di balik semesta. Salah satu peninggalan leluhur cikal bakal Cangkrep Kidul, diharapkan menjadi warisan khasanah budaya bagi anak cucu,” kata Uci.

Menurut Tari, salah satu warga Desa Cangkrep Kidul yang juga pecinta alam mengatakan, “Sebagai generasi yang jauh dari zaman leluhur kami hidup, saya baru tahu dan setelah diberi pemahaman soal budaya ini, jujur saya kagum dan merasa sangat bangga dengan kegitan seperti ini dan hal semacam ini patut di lestarika dan di teruskan!”

Acara budaya penuh muatan pesan moral yang positif ini patut diacungi jempol, generasi baru yang getol mengkaji histori dan akar budaya masa lalu yang nyaris punah kini bisa dinikmati kembali. Mereka yang bersinergi adalah masyarakat Cangkrep kidul, Karang Taruna Patria Gama, Komunitas Teater Purworejo dan seluruh elemen masyarakat yang mendukung kegiatan ini.

“Ya kami yang lahir di era yang beda memang melakukan riset dan mengkaji dari berbagai sumber soal Sumur 7 ini, dengan melakukan wawancara, para sesepuh, mengulik referensi buku-buku sejarah kuno, dan ternyata semangat menjaga keseimbangan alam dan seisinya telah dilakukan sejak jaman dahulu!” kata Agus, seniman asal Kutoarjo mengingatkan. (agam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here