Live In Via Via Cafe, Prawirotaman Yogyakarta, Wahyu Kuda Beksa Menari Bersama Wisatawan Mancanegara

0
270

Reviens Purworejo, Yogyakarta – Jalanan di Kawasan Prawirotaman – Yogyakarta, sore itu sekitar pukul 14.30 WIB seperti biasa terlihat penuh lalu lalang para pengguna jalan yang didominasi oleh para wisatawan mancanegara. Celana pendek dan Tshirt casual seolah menjadi “dress code” mereka yang akrab dengan ritme kesibukan di kawasan yang dikenal dengan “Kuta” nya Yogyakarta. Cafe dan penginapan di sepanjang jalan kawasan ini seolah tak pernah sepi dari hiruk pikuk kehidupan, mulai dari sekedar Hang Out, menikmati kuliner, atau menikmati musik dan ragam hiburan.

Tepat pukul 15.00 WIB suara kendang berpadu dengan alunan khas angklung dan drum terdengar, seketika itu juga grup jaran kepang Wahyu Kuda Beksa asal Desa Krendetan muncul dari lorong Via Via Cafe – Prawirotaman. Beralaskan karpet berwarna Biru, Bebe Cs langsung memancing perhatian para wisatawan. Hebatnya dalam waktu yang tak lama, terjadi kerumunan massa, praktis Jalan Prawirotaman ditutup. Ratusan pasang mata menyaksikan atraksi Wahyu Kuda Beksa yang gagah melakukan gerakan artistik nan gagah. Sejenak para wisatawan mancanegara menghentikan lalu lalang mereka berkumpul di depan Via Via Cafe, kamera ponsel dan kilatan lampu Flash dari kamera DSLR pun tertuju pada Bebe Cs.

Kerumunan makin penuh, para bule pun berebut mengambil tempat duduk lesehan di pinggir jalan untuk bisa dapat view yang lebih dekat dengan para penari Jaran Kepang Wahyu Kuda Beksa yang berkali-kali merebut juara dalam berbagai iven festival Jaran Kepang. Gerakan Seblak Sampur, Nyempurit, Nggandhewo Pinenthang, sesekali saling berkait kaki berpijak di pundak sesama penari ala Cheerleader, membuat gerakan lebih menarik dan penuh improvisasi. “Waooww…I like this crazy horse dance..they ve done beautifully!” kata Ana (35th) seorang guru sekolah asal Warsawa – Polandia kepada Reviens Media.

Tiba saat Bebe Cs mengendurkan irama permainan, sehelai Sampur (selendang) warna Kuning diarahkan ke leher seorang perempuan paruh baya. Diiringi tepuk tangan, penonton seolah memaksanya untuk segera masuk arena tari bersama personel Wahyu Kuda Beksa menari mengikuti irama. “Hahaha …come on ..lets dance with me!” kata Bebe mengajak perempuan bernama Monique Mc Elhiney asal Brisbane – Australia. Dan suasana akrab, menghibur karena gerakan unik Monique membuat semua tertawa dan bertepuk tangan.

Hal ini dilakukan secara bergantian dengan sasaran dari berbagai macam penonton secara acak, inilah dialog interaktif yang dibangun Wahyu Kuda Beksa yang sangat menghidupkan suasana sore itu. Via Via Yogya berhasil membidik sajian alternatif yang memang pas untuk dinikmati para pengunjung dan wisatawan. Grup Jaran Kepang Wahyu Kuda Beksa menjadi pembeda sekaligus magnet yang mampu bersanding dengan hiburan yang disajikan di sepanjang jalan Prawirotaman Yogyakarta dalam iven yang bertajuk “Festival Seni dan Budaya Prawirotaman”.

Pertukaran budaya ternyata tidak hanya dinikmati oleh para kaum terpelajar yang biasanya dikirim dari suatu negara untuk belajar tentang budaya lain di luar negaranya sendiri, yang mana kesempatan seperti itu hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas. Tetapi ternyata, kesempatan itu bisa juga dinikmati oleh Paguyuban Wahyu Kuda Beksa Desa Krendetan di bawah naungan Aswahita Rumah Temu Budaya (ARTB) yang diberi kesempatan dan diundang oleh ViaVia Yogya untuk tampil dalam Festival Seni & Budaya Prawirotaman di Yogyakarta pada Hari Minggu 22 Juli 2018.

Sebuah kesempatan emas yang diberikan kepada Paguyuban Kuda Kepang yang berada di Desa Krendetan Kec. Bagelen, yang dalam festival itu juga akan disandingkan untuk tampil bersama seniman- seniman lainnya yang sudah piawai dan disaksikan oleh para turis manca negara dari berbagai belahan dunia. Proses pembelajaran budaya yang menarik, karena akan terjadi interaksi langsung antara budaya desa dan kota yang sangat berbeda yang akan dirasakan langsung oleh para anak muda yang tergabung dalam Paguyuban Wahyu Kuda Beksa Krendetan.

“Dalam kesempatan ini Paguyuban Wahyu Kuda Beksa juga menggandeng Kesenian Ndolalak dari Desa Bagelen. Ini merupakan langkah realistis sebagai bentuk jejaring antardesa dalam bentuk kegiatan budaya yang bisa memajukan kedua desa baik Krendetan maupun Bagelen. Suatu bentuk kerjasama komunitas yang ” guyub” untuk maju bersama dimulai dari bersinergi di bidang kegiatan seni budaya!” kata Wuri, Penggagas Aswahita Rumah Temu Budaya yang bermarkas di Desa Krenedetan – Bagelen – Purworejo.

Kedua desa ini sebelumnya juga menjadi tempat digelar seni mural dengan judul “Bagelen Street Art Project” mengangkat tema “ Kembali ke Jalur Jogja – Purworejo” yang juga diselenggarakan oleh Via Via Yogya. Gelaran seni budaya yang memberikan alternatif bagi para seniman street artists dari dalam maupun luar negri untuk memamerkan karya – karya seni lukis tidak hanya di galeri tetapi di dinding rumah- rumah penduduk desa sebagai kanvasnya, dan hasilnya juga dinikmati oleh masyarakat banyak yang melintasi dua desa di Kecamatan Bagelen tersebut. (Agam)

Foto: Agam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here