Ungkapkan Rasa Syukur, Ribuan Ayam Panggang Dibagikan Dalam Merti Desa Pamriyan – Purworejo

0
829

Reviens Purworejo, Pituruh – Tradisi Budaya Merti Desa sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Desa Pamriyan – Kecamatan Pituruh – Kabupaten Purworejo kembali digelar Rabu (18 Juli). Acara yang digelar rutin secara periodik 3 tahunan ini di desa yang terletak di sebelah utara sekitar 20 km dari pusat pemerintah Kecamatan Pituruh, menjadi daya tarik wisata tersendiri. Sekitar 5000 ayam panggang ditata secara artistik bersanding dengan hasil bumi buah-buahan seperti nanas, pisang, kacang panjang, salak, mangga, kelapa, dan jajanan pasar seperti jenang, jadah dan sengkulun dihias dalam satu ancak (ambeng). Masing-masing ancak (ambeng) variatif secara umum banyak didominasi seukuran ranjang tidur. Total terdapat 47 ambeng yang dibuat oleh warga Pamriyan.

“Dua hari sebelum hari H kami sudah memasak bersama secara gotong royong, apa yang akan kami tata di ambeng, seperti memasak jenang, memanggang ayam, dan menghias jadi satu display dengan dana patungan tiap kelompok!” kata Ny. Sutarman salah satu koordinator kelompok.

Warga sedang menurunkan Ayam Panggang dari truk (Agam)

Tradisi yang dipercaya sudah dilakukan sejak ratusan tahun di Pamriyan ini sangat efektif untuk mengumpulkan masyarakat, bertemu, bermusyawarah dan untuk bermufakat sekaligus bersama mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi. Berbagai acara kesenian tradisional pun digelar untuk menghibur warga yang berkonsentrasi di Balai Desa Pamriyan, dari Tari Dolalak, Tari Tayub  yang dimainkan oleh Sanggar Tari Pragata dari Desa Karanganyar dan Sendra Tari berdirinya Desa Pamriyan.

Budi Susilo, Kepala Desa Pamriyan mengatakan bahwa selain nguri-uri tradisi, acara yang merupakan agenda tiga tahunan yang sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang. Gelaran yang disertai doa itu juga bertujuan untuk memohon keselamatan dan limpahan rejeki.

“Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan yang Maha Esa sekaligus permohonan untuk keselamatan warga desa. Kami semua bermohon agar hasil bumi makin melimpah ditahun berikutnya!” tambah Kades yang pernah mejadi Manager Kitchen di sebuah Resto di Amerika ini. Budi menambahkan, dalam merti desa tersebut diikuti oleh 8 dusun yang ada, dengan jumlah total ancak atau ambeng sebanyak 47 buah. Masing-masing ancak berisi ratusan ayam panggang dan diperkirakan jumlah ayam panggang seluruhnya mencapai lima ribu ekor.

Ayam panggang dalam acara merti desa (Agam)

Dari pagi puluhan ancak yang diangkut memakai kendaraan truk berdatangan, dibutuhkan puluhan orang untuk mengangkut mengingat ukuran dan beratnya lumayan besar.
Dua hari sebelum prosesi Merti Desa digelar, para sesepuh desa mengunjungi seluruh punden atau tempat-tempat yang dikeramatkan untuk berdoa kepada Sang Pencipta memohon agar gelaran Merti Desa  yang akan dilaksanakan  bisa berjalan lancar.

Fitri Sih (30th) salah satu warga Desa Pamriyan mengatakan bahwa biaya pembuatan Ancak lengkap dengan isinya bisa mencapai lebih dari Rp 15 Juta. Warga percaya bahwa tradisi tersebut wajib dilaksanakan karena jika ditiadakan maka akan terjadi bala bencana.

“Rasa syukur itu harus ikhlas demi keselamatan warga semua, itu yang terbaik!”, katanya serius.

Sejak pagi ribuan warga tumpah dalam acara tersebut. Selain penasaran karena ingin melihat keunikan tradisi  leluhur, mereka juga tidak mau ketinggalan untuk mendapatkan ayam panggang dan makanan tradisional lain yang dikemas dalam ancak. Warga bisa mendapatkan Ayam Panggang dengan menukarkan kupon (Girik) yang telah dibagikan sebelumnya. Uniknya warga Pamriyan sebagai tuan rumah penyelenggara harus rela tak membagikan semua  yang disajikan kepada warga tetangga desanya yang sudah mendapat kupon. “Kami sebagai penyelenggara memang tak boleh mengambil semua yang disajikan, itu semua buat berbagi kepada yang datang dari luar Pamriyan!”, kata Romo (45th) salah satu warga Pamriyan, buru-buru mengingatkan.

Bagi para tamu undangan biasanya mendapatkan 2 ekor ayam panggang / ingkung beserta hasil bumi dan jajanan pasar, pembagian dilakukan oleh panitia secara tertib, sehingga tidak berebut karena hanya tamu yang membawa undangan atau kupon yang bisa mendapatkan bagian dari ambeng / ancak tersebut.

Untuk undangan umum hanya mengundang masyarakat desa sekitar yang juga masih menggelar tradisi Merti Desa, sedangkan undangan khusus meliputi Pejabat Pemerintah dan dinas terkait tingkat kecamatan sampai tingkat kabupaten.

Pada bulan Agustus mendatang giliran Desa Gunung Condong Bruno yang akan melaksanakan acara Merti Desa, kemudian Desa Kemranggen Bruno akan diadakan pada bulan November mendatang, disusul Desa Karanggedang yang akan diadakan pada tahun depan 2019. Begitu seterusnya dan dilaksanakan secara bergilir setiap 3 tahun sekali.

Hadir dalam acara ini Bupati Purworejo H. Agus Bastian SE, MM, beserta Wakil Bupati Yuli Hastuti, Kapolres Purworejo AKBP Teguh Tri Prasetya Sik, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Agung Wibowo, AP, Camat Pituruh Ibu SIti Choiriyah, Kapolsek Pituruh AKP Junani Jumantoro, Danramil Kapten Inf Ariyadi, dan juga masyarakat Desa Pamriyan maupun di luar  Pamriyan.

Ada keyakinan bagi warga Pamriyan, semakin kita ikhlas dengan besaran biaya yang dikeluarkan untuk syukuran  desa, dan semakin banyak orang yang mendatangi untuk kenduri bersama, maka akan semakin besar rejekinya dan mendapat barokah.

Bupati Agus Bastian, didamping Camat Pituruh Siti Choiriyah,  menganggap bahwa acara tradisi yang sudah ratusan tahun ini, akan selalu menarik dan menjadi agenda wisata yang unik.

“Nguri-uri tradisi positif yang unik ini  harus lebih diberdayakan, supaya jadi sebuah alternatif destinasi wisata desa”, kata Bupati. Pemerintahan Kabupaten Purworejo jelas akan siap mengedepankan pembangunan akses ke Pamriyan mengingat jalan yang berkelok berliku kadang menanjak dan menurun masih terlihat kurang mulus. (Agam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here