Pemuda Purworejo, Sang Pelestari Budaya Nusantara

0
53

Rianto Purnomo, mungkin bagi sebagian kalangan nama itu masih sedikit asing di telinga, namun bagi pecinta seni dan kebudayaan nusantara nama itu sudah tidak asing lagi dan kamu sendiri bagaimana guys, kenal kah? Kalau belum yuk kita kenalan dengan Mas Pur, panggilan akrab Rianto Purnomo.

Pria kelahiran Yogyakarta, dan sekarang tinggal di desa Brondongrejo, Purwodadi, Purworejo ini memang menjadi sosok yang dimiliki Indonesia dengan talentanya di dunia kesenian. Tak heran dengan talenta yang dimilikinya, ia telah menghasilkan berbagai macam karya loh. “Waduh, banyak, setiap tahun saja minimal membuat 3 karya tari baru. Mosok mau disebutin semua.. Hahaaa”, ungkapnya.

“Sebenarnya bukan masalah fenomenalnya, tapi saya lebih pasnya menyampaikan karya yang paling berkesan adalah Ipat-Ipat Nyai Bagelen. Terharu, itu yang utama. Bagaimana tidak, tim kami yang kala itu menjadi duta Provinsi Jawa Tengah di ajang Parade Tari Nusantara tahun 2015 terdiri dari seniman seniwati bukan profesional. Apalagi yang diangkat & ditokohkan dalam karya tersebut adalah Eyang Nyai Bagelen. Ngeri-ngeri sedap bro. Alhamdulillah waktu itu kami mendapatkan 3 penghargaan, 13 penyaji unggulan, Penata Tari Unggulan & Penata Musik Unggulan”, ceritanya.

Advertisment

Tidak hanya itu guys, Ia pun sudah banyak mendapatkan berbagai penghargaan di antaranya: Pemuda Pelopor Bidang Budaya & Pariwisata Nasional (2007), Pemuda Andalan Nusantara, 2 kali, dari Menpora Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1 & 2, Pemuda Pelaku & Pelestari Seni Budaya Bagelen (2011) dari Museum Rekor Indonesia MURI, dan beberapa lagi. Keren kan guys? Kamu juga bisa kok seperti mas Pur ini.

Mas Pur juga sering dipercaya menggarap festival budaya baik yang bertaraf nasional maupun internasional. “Yang paling berkesan, Festival Teluk Jailolo 2012, Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara”, tambahnya.

Sekarang ini mas Pur lagi menggarap Festival INIS yang hanya tingkat desa. Apa sih yang mendorong mas Pur untuk membuat acara tingkat desa, padahal mas pur sudah melalangbuana membuat berbagai macam festival? “Saya merasa bertanggungjawab pada kondisi desa tempat saya berdomisili sekarang, desa Brondongrejo, kecamatan Purwodadi, kabupaten Purworejo. Desa dengan potensi alam & SDM yang luar biasa namun tidak pernah tersentuh.

Di Purworejo sendiri, sepengetahuan saya, belum ada pergerakan yang seorganik seperti di desa Brondongrejo. Semua tumbuh dari bawah, berkembang dari bawah juga. Pastinya, hal inilah yang akan menguatkan sebuah “Festival”.

Saya tidak pernah muluk-muluk menuntun mereka berkhayal yang terlalu jauh. Membuat pergerakan bersama, dikerjakan bersama, dikembangkan bersama, & dijaga bersama. Festival INIS milik Brondongrejo. Semua merasa memiliki atau handarbeni & nyengkuyung/mensuport. Perkara sekarang sudah dikunjungi banyak warga dari luar daerah bahkan Wisman, itu kebetulan saja, kado dari Tuhan”. Itulah yang diungkapkan oleh mas Pur tentang Festival INIS-nya.

Selain prestasi dan festival-festival tingkat nasional yang ia garap, Mas Pur ini adalah seniman yang getol melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisi rakyat nusantara loh guys. “Lah, kita ini hidup di mana? Mbok ya jangan ingkar kalau kita orang desa, lahir di sawah, besar & hidup dari sawah. Sawah dan dunianya telah menuntun energi leluhur kita dulu untuk berkarya, ada yang berbentuk seni pertunjukan, ada yang budaya, banyak juga adatnya.

Jangan salah, Kuda Kepang, Dolalak, Cekok Mondol, Cingpoling, Samanan, Incling, itu ruh yang berbentuk, terlihat nyata & terasa jiwanya. Menyaksikan kesenian itu, sejatinya melihat diri kita sendiri. Maka selayaknyalah, kita dekat & memeluk erat seni tradisi masyarakat agar kita bisa lebih mengerti jati diri kita”, ungkapnya.

Ia pun mengungkapkan, kenapa memiliki tekad melestarikan kesenian tradisi, Develop people by art. Mungkin itu kata kuncinya, bahwa  seni bisa dijadikan alat syiar paling efektif untuk membangun sumber daya manusia. “Hidup saya untuk anak-anak, ini salah satu cara saya menyentuh sanubari anak-anak”, tambahnya.

Mas Pur juga memberikan tanggapan tentang seni tradisi di era modern dan derasnya gempuran seni dan budaya modern luar negeri loh guys. “Seni tradisi melekat pada keseharian masyarakat, jika kita mau mempelajari budaya masyarakat kita bisa mengetahuinya dari seni tradisinya.

Dulu, informasi dunia luar rumah kita hanya bisa didapatkan dari melihat & mendengar langsung obyeknya. Budaya tutur/wicara sangatlah kuat.

Sekarang, kita bisa mendapatkannya secara cepat sambil tiduran di kamar, ponsel genggamlah yang bertutur. Sejatinya, manusia itu suka meniru. Maka seni tradisi zaman dulu hanya mirip dengan tetangga desanya kalau sekarang bisa mirip dengan tetangga pulau, bahkan negara.

Tidak ada yang salah, karena hidup terus berkembang, manusia menyesuaikan diri dengan habitatnya. Terbayangkah, 20 tahun lagi apa yang kita lakukan sekarang ini disebut tradisi oleh anak cucu kita? Begitulah seni tradisi.

Pandai-pandailah masing-masing pribadi membawakan diri, memilih dengan memilah semua yang ada di sekitarnya.

Buatnya sosok almarhum Ibunyalah yang memberikan motifasi mas Pur melestarikan kesenian tradisi ini.

Ia juga memiliki tanggapan sendiri soal anak millenial sekarang tidak sedikit yang lupa dan bahkan tidak tahu akan kesenian yang dimiliki bangsanya sendiri. “Hem, mereka nggak salah lho bro. Mereka begitu ya karena generasi sebelumnya (orang tua) gagal paham pada pendidikan budaya. Jadi, kalau mau memberi masukan lebih tepatnya pada generasi kita sendiri yang secara langsung atau tidak langsung influence ke mereka.

Mereka pasti tersinggung bahkan tidak paham, kenapa mereka disebut lupa budaya nusantara. Lha wong dikasih tahu saja tidak kok dibilang lupa… Hahhaa… Yang lupa ya generasi kita & sebelumnya. Maka bijaklah kita menguati diri sendiri untuk menjaga tradisi & budaya leluhur, agar generasi selanjutnya bisa tahu & tidak disebut lupa. Kamupun jika tidak tahu, tidak ada salahnya belajar dan mencari tahu tentang warisan budaya negerimu sendiri yang tidak kalah dengan budaya dan kesenian negeri lain loh guys.

 

Reporter: Chodri / Editor: Muh Khoirudin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here